resensi Penantian Lama Karya : Galang Ariesta Nugraha

Posted By: trisno widodo - 09.28

Share

& Comment

Suatu hari, ada seorang kakek yang tidak punya tempat tinggal duduk di pinggir jalan dan merasakan dinginnya malam. Ia berpikir apakah dia bisa tinggal di sebuah tempat yang mewah dan bisa tidur dengan nyenyak, tetapi itu hanya sebuah mimpi. Ia kembali melanjutkan perjalanannya ke tempat ia biasa tidur, yaitu dibawah kolong jembatan. Ia tahu bahwa kolong jembatan adalah bukan tempat yang baik untuk istirahat, tetapi itu hanyalah satu – satunya jalan agar ia bisa tetap hidup.
            
Keesokannya, kakek itu bangun dan berjalan – jalan di sekitar kolong jembatan untuk mencari makanan. “Memang susah mencari makanan di tempat ini”, katanya sambil menendang – nendang sampah yang ada di sekitarnya. Ia kemudian pergi ke perempatan jalan sambil meminta – minta uang untuk mencari makan, akan tetapi tidak ada orang yang memberikannya.

Kakek itu kemudian pergi ke suatu rumah di mana rumah itu adalah rumah temannya waktu sekolah dulu. Ia menunggu di depan rumah dan membunyikan bel. Setelah membunyikan bel, seseorang yang masih muda keluar dari pintu dan mendekatinya. “Siapa kamu? Ada perlu apa mendatangi rumah saya?” kata  orang muda itu. Kakek itu menjawab “Apakah Norman ada di rumah?”. “Kenapa kamu mencari kakekku?” jawab anak muda yang ternyata cucu dari teman kakek itu. “Aku adalah teman kakekmu sewaktu kami masih sekolah bersama – sama. Aku datang karena ingin meminta bantuan,” kata Kakek sambil mengusap wajahnya yang berkeringat karena panasnya matahari. Anak muda tadi masuk kembali ke rumah dan memanggil kakeknya yang masih sehat itu. “Hai Burman, apa kabar? Lama sekali kita tidak pernah ketemu. Kemana saja kamu?” sapa Norman. “Aku baik baik saja, aku akan ceritakan di dalam jika kamu boleh mempersilahkan aku masuk?” jawab Burman dengan tertawa kecil. Kemudian Norman mempersilahkan masuk Burman dan meminta cucunya untuk membuatkan es teh. “Ceritakan padaku mengapa kamu membutuhkan bantuan dariku?” kata Norman. “Begini, aku sebenarnya sudah tidak mempunya tempat tinggal sejak rumahku terbakar 20 tahun yang lalu, dan istriku sudah meninggal karena kebakaran itu, jadi aku meminta bantuanmu, apakah kamu bisa mencarikanku tempat tinggal yang nyaman?” jawab Burman. Suasanya hening sejenak setelah pertanyaan Burman. Kemudian, Agus mengambil sepucuk surat dan diberikannya kepada Burman sambil berkata, “Ambilah surat ini dan bacalah isinya.” “Apa isi surat ini?” tanya Burman. “Aku tidak tahu, keluargamu yang menitipkan surat ini padamu. Aku selalu lupa memberikannya kepada kamu, mumpung kamu di sini aku memberikan surat itu.” Burman membuka surat tersebut, di dalamnya terdapat secarik kertas, buku tabungan dan uang tunai senilai 1 juta Rupiah. Burman kaget melihat isinya. Kemudian Ia membaca kertas yang ada di dalam surat tadi.











Untuk Ayah,

Hai ayah, bagaimana kabar ayah? Sehat kan? Ini anakmu yang bernama Arjuna. Sudah lama aku ingin bertemu dengan ayah. Ayah kemana saja? Aku disini bersama Ibu. Kami selamat dari kebakaran yang terjadi di rumah dan kami langsung dibawa ke rumah sakit tanpa sepengetahuan ayah. Kami merindukan ayah. Sekarang kami tinggal di Jakarta, tepatnya di Jakarta Pusat. Kami tinggal di sebuah rumah yang nyaman. Ibu juga sudah mempunyai pekerjaan yang sangat luar biasa yaitu sebagai Manajer di sebuah mall. Kami menunggumu di sini. Oh iya, di dalam surat ini ada uang tunai dan buku tabungan. Gunakan untuk menyusul kami ke sini.



Dari
Anakmu,



                                                                                                            Arjuna.


Setelah membaca surat itu, Burman menangis bahagia karena istri dan anaknya masih hidup. Kemudian Burman bertanya kepada Norman “Norman, Kapan mereka memberikan surat ini?” “10 atau 11 tahun yang lalu, saat itu aku bertemu mereka di Jakarta di pernikahan anakku yang pertama,” jawab Burman. “Mengapa kamu tidak langsung memberikannya kepadaku?” tanya Burman sambil menangis. “Karena susah aku mencari kamu dan kesibukan saat bekerja.”
“Ya sudah, tidak apa – apa. Setidaknya sekarang aku tahu istri dan anakku masih hidup.”  jawab  Burman dengan tangisan bahagia.
Setelah berbincang sebentar dengan Norman, Burman segera pergi ke stasiun kereta api dan memesan tiket untuk perjalanan  ke Jakarta. Di stasiun, Burman membaca ulang surat yang ia baca tadi dan mencari petunjuk alamat mereka tinggal. Setelah 20 menit, kereta eksekutif jurusan Jogja – Jakarta Gambir datang. Burman segera masuk dan mencari tempat duduk yang ia pesan. Sekitar jam 10 pagi, kereta berangkat. Dari Jogja ke Jakarta butuh waktu sekitar 7 – 8 jam perjalanan. Selama perjalanan, Burman masih sibuk mencari petunjuk alamat mereka. Ia masih kebingungan mencari jawaban. Sambil menikmati perjalanan, Ia memesan makanan yang posrsinya lumyan besar karena ia sudah lama tidak pesan makanan enak. Setelah kenyang, Ia masih mencari alamat anaknya. Dia mencoba membuka buku tabungan yang diberikan anaknya. Di dalam buku tabungan halaman terakhir  di bagian pojok kiri atas ada tulisan di mana mereka tinggal. Burman sangat senang dan ia mencoba beristirahat karena terlalu lelah mencari alamat tadi.
Kemudian Burman dibangunkan seseorang. Orang itu berkata bahwa dia sudah sampai Jakarta. Kemudian Burman bangun dan merapikan barang bawaannya dan bergegas keluar dari gerbong. Hari sudah hampir malam ketika burman sampai di Jakarta. Burman segera mencari hotel yang murah karena ia hanya tinggal sementara dan esoknya ia harus mencari tempat tinggal anaknya. Setelah menyusuri sekitar Stasiun Gambir, Ia berhasil menemukan hotel yang murah dan segera berisitirahat.
Keeseokannya ia meninggalkan hotel dan memulai pencariannya dengan naik bus Trans Jakarta. Ia memesan tiket ke daerah Kemayoran Jakarta Pusat. Sesampainya di Kemayoran, Ia mencari tempat tinggal anaknya. Ia mencoba ke perumahan yang bernama Perumahan Kemayoran Asri. Ia bertanya kepada satpam yang berjaga apakah ia mengenal anak yang bernama Arjuna. Tetapi satpam tersebut tidak tahu karena ia masih baru di sini dan belum terlalu hafal dengan warga sekitar. Kemudian Ia bertanya kepada seorang penjaga warung makan. “Bu, Apakah ibu mengenal anak bernama Arjuna?” tanya Burman. “Oh Arjuna, Dia sudah tidak tinggal di sini lagi. Dia sudah pindah bersama ibunya ke Jogja. Katanya Ia ingin mencari ayahnya yang sudah lama tidak ia temui,” jawab penjaga warung. Burman kaget dan segera berpamitan dengan penjaga warung tadi. Burman kembali ke Stasiun Gambir dan memesan tiket kembali ke Jogja. Tetapi tiket ke Jogja sudah habis dan burhan kembali ke hotel dimana Ia menginap tadi malam.
Sekitar jam 06.30 Burman pergi ke Stasiun Gambir dan memsan tiket Jakarta – Jogja. Jam 7 kereta datang dan Burman segera masuk gerbong ke 3. Saat perjalanan, Ia tidur lelap. Setelah tidur selama 1 jam, Ia terbangun dan memesan makanan karena dia belum sarapan.
Sesampainya di Jogja, Burman langsung menuju rumah Norman dan menemukan bahwa anak dan istrinya ada di sana sedang berbincang – bincang. Burman langsung memeluk istri dan anaknya yang ia sangat ingin temui setelah sekian lama. Dengan menangis haru, Burman berkata, “Sudah besar kamu nak Arjuna... Sekarang kamu sudah bisa menjaga Ibumu dan Ayah minta maaf karena tidak bisa menjaga dan merawat kalian dengan baik. Ampunilah kesalahan Ayah ya Nak...” Arjuna tidak menjawab apa – apa. Suasananya sangat mengharukan. Norman yang melihat mereka berpelukan pun ikut menangis dan berkata, “Belum pernah aku merasakan perasaan yang sangat haru seperti ini. Sungguh sangat menyentuh hati.”
Burman melepaskan pelukan dan berpamitan kepada Norman. Burman berencana untuk membangun kembali rumahnya. Burman mengajak anak dan istrinya ke rumah mereka yang lama. Setelah sampai, Burman kaget dan tidak bisa berkata apa – apa karena rumah dulunya terbakar sudah direnovasi dan ditinggali lagi. Burman bertanya kepada isrtinya, “Bu.. Apakah ibu yang membangun kembali rumah kita?” “Tidak Man.. Anakmu lah yang membangun kembali rumah kita.” Jawab isrtinya. “Bagaimana bisa? Anak kita hebat sekali. Senang rasanya punya anak yang bisa membahagiakan orang tua,” jawab Burman dengan bangga. “Bisalah yah. Anakmu ini sudah dewasa dan sudah mempunyai pekerjaan,” jawab Arjuna sambil mempersilahkan masuk orang tuanya. Burman senang bisa kembali ke rumah yang banyak kenagan itu. Burman berjanji di masa tuanya ini Ia dapat menjaga dan merawat isrtinya dengan baik.


About trisno widodo

Organic Theme is officially developed by Templatezy Team. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 comments:

Copyright © 2015 blog trisno

Designed by Templatezy